Makalah Kesulitan Belajar
Dosen Pengampu : Rizki Zuliani

Disusun Oleh
Prisma Gandasari 1701025107
Muhammad
Ghilman Rusfian 1701025117
Galuh Maheswari 1701025137
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN
DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PROF. DR HAMKA
2018
KATA
PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah akhirnya penyusun
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Definisi Belajar dan Jenis-jenis
Belajar di Sekolah Dasar”. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Bimbingan di SD.
Penyusun menghaturkan terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga dengan disusunnya makalah
ini dapat memberikan ilmu yang bermanfaat bagi para pembaca.
Penyusun menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan
dalam penyusunan makalah ini, untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran
untuk perbaikan makalah yang lainnya.
Jakarta, 09 Oktober 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL
BAB
I PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
………………………………………………………………….1
- Rumusan Masalah
………………………………………………….…………….……….1
- Tujuan ………………………………………………………………………..….………..1
BAB
II PEMBAHASAN
- Definisi Belajar
…………………………………………………………………..……….2
- Jenis-jenis Belajar
……………………………………………………………..….………4
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
……………………………………………………………………….……..11
- Saran
…………………………………………………………………..….……………..11
BAB I
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur
yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan pendidikan. Hal ini
menunjukan bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan amat
bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di
sekolah, lingkungan keluarga atau lingkungan masyarakatnya sendiri.
Pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala
aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik karena
kekeliruan atau ketidak lengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar, baik
itu mengenai definisi belajar dan hal-hal yang berkaitan mungkin akan mengakibatkan
kurang bermutunya hasil yang akan dicapai. Oleh karena itu, pada makalah ini
akan dibahas definisi dan jenis-jenis belajar.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, adapun rumusan
masalahnya adalah sebagai berikut:
- Definisi belajar ?
- Jenis-jenis belajar ?
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk :
- Mengetahui definisi belajar
- Mengetahui jenis-jenis belajar
BAB II
Sebagai landasan penguaraian mengenai apa yang dimaksud
dengan belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definsi menurut para
ahli. Berikut adalah beberapa definisi yang ditulis oleh purwanto dalam bukunya
yang berjudul Psikologi Pendidikan (1990) :
Hilgard dan Bower dalam buku Theories of Learning (1975)
Mengemukakan “belajar berhubungan dengan perubahan tingkah
laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh
pengalamannya berulang-ulang dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku
itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan,
kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh
obat dan sebagainya)”
- Gagne dalam buku The condition of learning (1977)
menyatakan bahwa : “ belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus besama
dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga
perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami
situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
- Morgan, dalam buku introduction to psychology (1978)
mengemukakan : “belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap
dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan
atau pengalaman.”
- Witherington, dalam buku Educational Psychology.
Mengemukakan .” belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang
menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa
kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian”
- Menurut Charles E. Skiner ( dalam Dalyono, 2010 :
212). “learning is a process of progressive behavior adaption”, bahwa
belajar adalah proses penyesuaian tingkah laku ke arah yang lebih maju.
- Mc. Gooch mengatakan “learning is a change in
performance as a result of practice, “ belajar adalah perubahan pada
perbuatan sebagai akibat dari latihan (Dalyono, 2010:212).
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapat
dikemukakan adanya beberapa elemen penting yang merincikan pengertian tentang
belajar, yaitu bahwa :
- Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku,
di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih
baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih
buruk.
- Belajar merupkan suatu perubahan yang terjadi melalui
latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan
oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar;
seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi
- Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus
relatif mantap; harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang
cukup panjang. Berapa lama periode waktu itu berlangsung sulit ditentukan
dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu
periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun
bertahun-tahun. Ini berarti kita harus mengenyampingkan perubahan-perubahan
tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman
perhatian, atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya berlangsung
sementara.
- Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar
menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti
perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/ berfikir,
keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
Selain yang telah dicantumkan diatas ada beberapa definisi
lain diantaranya Cronbach dalam Djamarah (2011: 13) berpendapat bahwa belajar
sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai
pengalaman.
Anita E. Wool Folk (dalam Kartadinata dkk, 1998: 57)
mengungkapkan bahwa ‘Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku
sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara
individu dengan lingkungannya’.
Drs. Slameto dalam Djamarah (2011: 13) juga merumuskan
pengetian tentang belajar, menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengetian belajar
dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan
melibatkan dua unsur yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukkan harus
sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan
yang didapatkan itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab
masuknya kesan-kesan yang baru. Perubahan sebagai hasil proses belajar adalah
perubahan jiwa yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.
Menurut
KKBI mendefiniskan bahwa Belajar ialah berusaha untuk memperoleh kepandaian
atau ilmu.
Menurut
Slameto menyatakan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
menyeluruh, yang sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam berinteraksi
dengan suatu lingkungannya.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu
kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan suatu tingkah laku sebagai
hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.
Ciri-Ciri Belajar
- Adanya suatu kemampuan
baru atau perubahan. Dalam Perubahan tingkah laku yang sifatnya
pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun sebuah nilai
dan sikap (afektif).
- Dalam perubahan itu tidak
berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau bisa disimpan.
- Dalam Perubahan itu tidak
terjadi begitu saja melainkan harus dengan sebuah usaha. Perubahan terjadi
akibat suatu interaksi dengan lingkungan.
Berdasarkan cara
atau proses yang ditempuh d alam belajar,
Nasution M. A., seperti dikutip Effendi & Praja (1993), menyebutkan lima
jenis belajar berikut:
1. Belajar
Berdasarkan Pengamatan (Sensory Type of Learning)
Jenis belajar
ini adalah belajar berdasarkan pengamatan sensoris terhadap objek – objek dunia
sekitar dengan berbagai alat indra untuk melihat, mendegar, meraba, mengecap,
dan sebagainya. Contoh, berkat pengamatan, seorang anak mula – mula mengenal
ibunya, kemudian anggota keluarga lainnya, alat – alat rumah tangga, dan
sebagainya. Demikian pula belajar taraf tinggi, tidak terlepas dari faktor
pengamatan, sekalipun sering juga dibantu dengan alat – alat, seperti mikroskop
untuk melihat bakteri, teleskop, dan sebagainya.
2. Belajar
Berdasarkan Gerak (Motor Type of Learning)
Ada beberapa
prinsip yang harus diperhatikan dalam belajar motoris.
ü Mengetahui
tujuan dengan jelas dan yakin terhadap faedah tujuan itu baginya.
ü Mempunyai
tanggapan yang jelas tentang kecakapan yang dipelajari. Tanggapan itu diperoleh
melalui demonstrasi, gambaran – gambaran, atau penjelasan lisan.
ü Pelaksanaan yang
tepat pada taraf permulaan, sebab kesalahan yang dilakukan pada taraf permulaan
belajar akan mengurangi efisiensi belajar selanjutnya “It is Necessary to tress
accuracy and speed later”.
ü Dalam belajar
motoris pada umumnya metode keseluruhan lebih efisiensi daripada metode bagian.
Misalnya belajar menulis kata – kata atau kalimat, lebih baik ketimbang belajar
menulis huruf.
ü Latihan seperti
dalam situasi hidup/dalam situasi sebenarnya.
ü Latihan (Belajar
motoris) lebih efektif bila perhatian tidak terlampai dipusatkan pada gerakan
itu sendiri. Misalnya belajar mobil, perhatian ditujukan pada keadaan lalu
lintas atau situasi jalan, tidak pada gerakan kaki atau tangan.
ü Tidak banyak
kritik, terutama pada proses belajar permulaan.
ü Analisis
kecakapan. Si pelajar harus mengetahui bentuk dan teknik pelaksanaan yang
sempurna, mengenai detail gerakan yang relative cepat.
ü Bentuk dan
teknik. Untuk tiap kecakapan diperlukan bentuk dan teknik tertentu untuk
melaksanakan latihan dengan efisien, dengan tidak memboroskan tenaga.
3. Belajar
Berdasarkan Menghafal (Memory Type of Leaning)
Beberapa
petunjuk tentang menghafal adalah berikut ini.
ü Apa saja yang
dihafalkan terlebih dahulu harus dipahami/dimengerti benar – benar.
ü Hal yang dihafal
harus jelas kaitannya antara satu masalah dan masalah lainnya, sehingga
merupakan suatu kerangka keseluruhan.
ü Menggunakan hal
– hal yang dihafal secara fungsional dalam situasi tertentu.
ü Menggunakan memo
teknik. Misalnya: Repelita.
ü Mengulangi
hafalan (Aktive recall dan review).
4. Belajar
Berdasarkan Pemecahan Masalah (Problem Solving Type of Learning)
Langkah
– Langkah dalam problem solving, antara lain:
ü Memahami masalah
atau problema
ü Mengumpulkan
keterampilan atau data
ü Merumuskan
hipotesis
ü Menilai/mengkaji
hipotesis
ü Mengadakan
eksperimen atau percobaan
ü Membentuk
kesimpilan
Metode probem
solving dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah/pelajaran, misalnya
sejarah, biologi, ilmu alam, bahasa, ilmu pasti, dan sebagainya.
5. Belajar
Berdasarkan Emosi (Emotional Type of Leaning)
Belajar
berdasarkan emosi bertujuan menanamkan aspek – aspek kepribadian, misalnya,
ketekunan, ketelitian, kebersihan, sikap yang sehat terhadap pekerjaan, minat
yang luas, dan sebagainya. Jadi, belajar tidak semata – mata dititikberatkan
pada “How to make a living”, tetapi juga “how to live”.
Jenis-jenis belajar diantaranya adalah belajar arti
kata-kata, belajar kognitif, belajar menghafal, belajar teoritis, belajar
konsep, belajar kaidah, belajar berpikir, belajar keterampilan motorik (motor
skill), belajar estetis (Djamarah, 2011: 27-37)
- Belajar Arti Kata-Kata
Belajar arti kata-kata maksudnya adalah orang mulai
menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan. Pada mulanya
suatu kata sudah dikenal, tetapi belum tahu artinya. Setiap pelajar pasti
belajar arti kata-kata tertentu yang belum diketahui. Tanpa hal ini, maka sukar
menggunakannya.
- Belajar Kognitif
Dalam belajar kognitif, objek-objek yang ditanggapi tidak
hanya yang bersifat materiil, tetapi juga yang bersifat tidak materiil.
Objek-objek yang bersifat materiil misalnya orang, binatang, bangunan,
kendaraan, perabot rumah tangga, dan tumbuh-tumbuhan. Objek-objek yang bersifat
tidak materiil misalnya seperti ide kemajuan, keadilan, perbaikan, pembanguan, dan
sebagainya.
Bila tanggapan berupa objek-objek materiil dan tidak
materiil telah dimiliki, maka seseorang telah mempunyai alam pikiran kognitif.
Itu berarti semakin banyak pikiran dan gagasan yang dimiliki seseorang, semakin
kaya dan luaslah alam pikiran kognitif orang itu.
Belajar kognitif
penting dalam belajar. Dalam belajar, seseorang tidak bisa melepaskan diri dari
kegiatan belajar kogntif. Mana bisa kegiatan mental tidak berproses ketika
memberikan tanggapan terhadap objek objek yang diamati. Sedangkan belajar itu
sendiri adalah proses mental yang bergerak kea rah perubahan.
- Belajar Menghafal
Menghafal adalah suatu aktifitas menananmkan suatu aktivitas
menanamkan suatu materi verbal dalam ingatan, se hingga nantinya dapat
diingat kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli. Peristiwa menghafal merupakan
proses mental untuk mencamkan dan menympan kesan-kesan, yang nantinya suatu
waktu bila diperlukan dapat diingat kembali ke alam sadar.
Ciri khas dalam belajar/ kemampuan yang diperoleh adalah
reproduksi secara harfiah dan adanya skema kognitif. Adanya skema kognitif
berarti, bahwa dalam ingatan orang tersimpan secara baik semacam program
informasi yang diputar kembali pada waktu dibutuhkan, seperti yang terjadi pada
komputer.
Dalam menghafal, ada beberapa syarat yang perlu
diperhatikan, yaitu mengenai tujuan, pengetian, perhatian dan ingatan. Efektif
tidaknya dalam menghafal dipengaruhi oleh syarat-syarat tersebut. menghafal
tanpa tujuan menjadi tidak terarah, menghafal tanpa pengertian menjadi kabur,
menghafal tanpa pehatian adalah kacau, dan menghafal tanpa ingatan adalah
sia-sia.
- Belajar Teoritis
Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data
dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasai mental. Sehingga dapat
dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem-problem, seperti terjadi dalam
bidang studi ilmiah. Maka diciptakan struktur hubungan. Misalnya “bujur
sangkar” mencangkup semua bentuk persegi empat; iklim dan cuaca berpengaruh
terhadap pertumbuhan tanaman, tumbuh-tumbuhan dibagi dalam genus dan species.
Sekaligus dikembangkan metode-metode untuk memecahkan problem-problem secara
efektif dan efisien, misalnya dalam penelitian fisika.
- Belajar Konsep
Konsep atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili
sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama, orang yang memiliki konsep
mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapinya, sehingga
objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam
kesadaran orang dalam bentuk repressentasi mental tak berperaga. Konsep sendiri
pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata (lambang bahasa).
Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus
didefinisikan. Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada objek-objek
dalam lingkungan fisik. Konsep ini mewakili benda tertentu, seperti meja,
kursi, tumbuhan, rumah, mobil, sepeda motor dan sebagainya. Konsep yang
didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung
menunjuk pada realitas dalam lingkungan hidup fisik, karena realitas itu tidak
berbadan. Hanya dirasakan adanya melalui proses mental. Misalnya, saudara
sepupu, saudara kandung, paman, bibi, belajar, perkawinan, dan sebagainya,
adalah kata-kata yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa, bahkan dengan
mikroskop sekalipun. Untuk memberikan pengertian pada semua kata itu diperlukan
konsep yang didefinisikan dengan menggunakan lambang bahasa.
Ahmad adalah saudara sepupu Mahmud; merupakan kenyataan (realitas),
tetapi tidak dapat diketahui dengan mengamati Ahmad dan Mahmud. Kenyataan itu
dapat diketahui dengan menggunakan lambang bahasa. Kata “saudara sepupu”
dijelaskan. Penjelasan atas kata “saudara sepupu” itulah yang dimaksudkan
disini dengan konsep yang didefinisikan. Berdasarkan konsep yang didefinisikan,
didapatkan pengertian, sauadara sepupu adalah anak dari paman atau bibi.
Akhirnya, belajar konsep adalah berfikir dalam konsep dan
belajar pengertian. Taraf ini adalah taraf konprehensif. Taraf kedua dalam
taraf berfikir. Taraf pertamanya adalah taraf pengetahuan, yaitu belajar
reseptif atau menerima.
- Belajar Kaidah
Belajar kaidah (rule) termasuk dari jenis belajar kemahiran
intelektual (intellectual skill), yang dikemukakan oleh Gagne. Belajar kaidah
adalah bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu
ketentuan yang merepresentasikan suatu keteraturan. Orang yang telah
mempelajari suatu kaidah, mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya
seseorang berkata “besi dipanaskan memuai”. Karena seseorang telah menguasai
konsep dasar mengenai “besi”, “dipanaskan”, dan “memuai” dan dapat
menentukan adanya suatu relasi yang tetap antara ketiga konsep dasar itu (besi,
dipanaskan, dan memuai), maka dia dengan yakin mengatakan bahwa “besi
dipanaskan memuai”
- Belajar Berpikir
Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah
yang harus dipecahkan, tetapi tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam
pengamatan.masalah harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya
menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.
Dalam konteks ini ada istilah berpikir konvergen dan
berpikir divergen. Berpikir konvergen adalah berpikir menuju satu arah yang
benar atau satu jawaban yang paling tepat atau satu pemecahan dari suatu
masalah.berpikir divergen adalah berpikir dalam arah yang berbeda-beda, akan diperoleh
jawaban-jawaban unit yang berbeda-beda tetapi benar.
Konsep Dewey tentang berpikir menjadi dasar untuk pemecahan
masalah adalah sebagai berikut.
- Adanya kesulitan yang dirasakan dan kesadaran akan
adanya masalah.
- Masalah itu diperjelas dan dibatasi.
- Mencari informasi atau data dan kemudian data itu
diorganisasikan.
- Mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan
hipotesis-hipotesis, kemudian hipotesis-hipotesis itu dinilai, diuji, agar
dapat ditentukan untuk diterima atau ditolak.
- Penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi
sekaligus berlaku sabagai pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk
dapat sampai pada kesimpulan.
Menurut Dewey, langkah-langkah dalam pemecahan masalah
adalah sebagai berikut.
- Kesadaran akan adanya masalah.
- Merumuskan masalah.
- Mencari data dan merumuskan hipotesis-hipotesis.
- Menguji hipotesis-hipotesis itu.
- Menerima hipotesis yang benar.
Meskipun diperlukan langkah-langkah, menurut Dewey, tetapi
pemecahan masalah itu tidak selalu mengikuti urutan yang teratur, melainkan meloncat-loncat
antara macam-macam langkah tersebut. Lebih-lebih apabila orang berusaha
memecahkan masalah-masalah yang kompleks.
- Belajar Keterampilan Motorik (Motor Skill)
Orang yang memiliki suatu keterampilan motorik, mampu
melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan
mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu.
Ciri khas dari keterampilan motorik adalah “otomatisme”, yaitu rangkaian
gerak-gerik berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancar dan supel,
tanpa dibutuhkan banyak refleksi tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa
diikuti urutan gerak-gerik tertentu.
Dalam kehidupan manusia, keterampilan motorik memegang
peranan sangat pokok. Seorang anak kecil sudah harus menguasai berbagai
keterampilan motorik, seperti mengenakan pakainnya sendiri, mempergunakan
alat-alat makan, mengucapkan bunyi-bunyi yang berarti, sehingga dapat
berkomunikasi dengan saudara-saudara dan sebagainya. Pada waktu masuk sekolah
dasar, anak memperoleh keterampilan-keterampilan baru, seperti menulis dengan
memegang alat tulis dan membuat gambar-gambar; keterampilan keterampilan ini
menjadi bekal dalam perkembangan kognitifnya. Selain itu, dia juga
mendapat pelajaran mengembangkan keterampilan motorik, seperti
berolahraga.
- Belajar Estetis
Bentuk belajar ini bertujuan membentuk kemampuan menciptakan
dan menghayati keindahan dalam berbagai bidang keesenian. Belajar ini
menyangkup fakta, seperti nama Mozart sebagai pengubah musik klasik;
konsep-konsep seperti ritme, tema, dan komposisi; relasi-relasi, seperti
hubungan antara bentuk dan isi; stuktur-struktur, seperti sistematika warna dan
aliran-aliran dalam seni lukis; metode-metode, seperti menilai mutu dan
originalitas suatu karya seni.
Dilihat
dari tujuan dan hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar, para ahli umumnya
mengemukakan delapan jenis belajar berikut (Saodih & Surya, 1971; Syah
1995; Effendi & Praja, 1993).
1. Belajar
Abstrak (Abstract Learning)
Belajar abstrak
pada dasarnya adalah belajar dengan menggunakan cara – cara berpikir abstrak.
Tujuannya ialah memperoleh pemahaman serta pemecahan yang tidak nyata. Dalam
mempelajari hal – hal yang abstrak peranan akal atau rasio sangatlah penting.
Begitu pula penguasaan ata prinsip – prinsip dan konsep – konsep. Termasuk
dalam jenis ini, misalnya, belajar tauhid, astronomi, kosmografi, kimia, dan
amtematika.
2. Belajar
Keterampilan (Skill Learning)
Belajar
keterampilan merupakan proses belajar yang bertujuan memperoleh keterampilan
tertentu dengan menggunakan gerakan – gerakan motorik. Dalam belajar jenis ini,
proses pelatihan yang intensif dan teratur sangat diperlukan. Termasuk belajar
dalam jenis ini, misalkan belajar cabang – cabang olah raga, melukis,
memperbaiki benda – benda elektronik. Bentuk belajar keterampilan ini disebut
juga latihan atau training.
3. Belajar
Sosial (Social Learning)
Belajar sosial
adalah belajar yang bertujuan memperoleh keterampilan dan pemahaman terhadap
masalah – masalah sosial, penyesuaian terhadap nilai – nilai sosial dan sebagainya.
Termasuk belajar jenis ini misalnya belajar memahami masalah keluarga, masalah
penyelesaian konflik antaretnis atau antarkelompok, dan masalah – masalah lain
yang bersifat sosial.
4. Belajar
Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Belajar pemecahan
masalah pada dasarnya adalah belajar untuk memperoleh keterampilan atau
kemampuan memecahkan berbagai masalah secara logis dan rasional. Tujuannya
ialah memperoleh kemampuan atau kecakapan kognitif guna memecahkan masalah
secara tuntas. Untuk itu, kemampuan individu dalam menguasai berbagai konsep,
prinsip, serta generalisasi, amat diperlukan.
5. Belajar
Rasional (Rational Learning)
Belajar rasional
adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis atau sesuai
dengan akal sehat. Tujuannya ialah memperoleh beragam kecakapan menggunakan
prinsip – prinsip dan konsep – konsep. Jenis belajar ini berkaitan erat dengan
belajar pemecahan masalah. Dengan belajar rasional, individu diharapkan
memiliki kemampuan rational problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah
dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akan sehat, logis, dan sistematis.
6. Belajar
Kebiasaan (Habitual Learning)
Belajar
kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan baru untuk perbaikan kebiasaan
yang telah ada. Belajar kebiasaan, selain menggunakan perintah, keteladanan,
serta pengalaman khusus, juga menggunakan hokum dan ganjaran. Tujuannya agar
individu memperoleh sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan
lebih positif, dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu atau
bersifat kontekstual.
7. Belajar
Apresiasi (Appreciation Learning)
Belajar
apresiasi pada dasarnya adalah belajar mempertimbangkan nilai atau arti penting
suatu objek. Tujuannya agar individu memperoleh dan mengembangkan kecakapan
ranah rasa (effective skills), dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat,
arti penting objek tertentu, misalnya apresiasi sastra, apresiasi music, dan
apresiasi seni lukis.
Dalam
mengapresiasi mutu karya sastra, misalnya, seorang individu perlu mengetahui “hakikat
keindahan” (estetika) di samping mengetahui hal – hal lain, seperti bentuk
ungkapan, isi ungkapan, bahasa ungkapan, dan nilai ekspresinya.
Bidang studi
agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan apresiasi
individu. Misalnya dalam hal seni baca tulis Al – Quran.
8. Belajar
Pengetahuan (Study)
Belajar
pengetahuan dimaksudkan sebagai belajar untuk memperoleh sejumlah pemahaman,
pengertian, informasi, dan sebagainya. Belajar pengetahuan juga dapat diartikan
sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran
dengan melibatkan kegiatan investigasi atau penelitian dan eksperimen. Tujuan
belajar pengetahuan ialah agar individu memperoleh atau menambah informasi dan
pemahaman terhadap pengetahuan tertentu, yang biasanya lebih rumit dan
memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat –
alat laboratorium dan penelitian lapangan
BAB III
Belajar adalah suatu kegiatan jiwa
raga untuk memperoleh suatu perubahan suatu tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut
kognitif, afektif, dan psikomotor. Ada beberapa jenis-jenis belajar diantaranya
adalah belajar arti kata-kata, belajar kognitif, belajar menghafal, belajar
teoritis, belajar konsep, belajar kaidah, belajar berpikir, belajar
keterampilan motorik (motor skill), dan belajar estetis.
Berdasarkan cara atau proses yang
ditempuh dalam belajar, Nasution M. A., seperti dikutip Effendi & Praja
(1993), menyebutkan lima jenis belajar berikut:
1. Belajar Berdasarkan Pengamatan
2. Belajar Berdasarkan Gerak
3. Belajar Berdasarkan Menghafal
4.
Belajar Berdasarkan Pemecahan
Masalah
5.
Belajar Berdasarkan Emosi
Dilihat
dari tujuan dan hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar, para ahli umumnya
mengemukakan delapan jenis belajar berikut (Saodih & Surya, 1971; Syah
1995; Effendi & Praja, 1993).
1. Belajar Abstrak
2. Belajar Keterampilan
3. Belajar Sosial
4. Belajar Pemecahan Masalah
5. Belajar Rasional
6. Belajar Kebiasaan
7. Belajar Apresiasi
8.
Belajar Pengetahuan
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah ini baik dari segi sumber maupun penulisan, untuk itu penyusun sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk perbaikan makalah
selanjutnya.
Diharapkan pembaca tidak merasa puas dengan materi yang
telah dibaca dan mencoba mencari definisi dan jenis-jenis belajar yang
diungkapkan oleh para ahli lainnya sehingga mendapatkan ilmu yang lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Dalyono, M. (2010). Psikologi Pendidikan. Jakarta:
PT Rineka Cipta
Djamarah, S. B. (2011). Psikologi Belajar. Jakarta:
PT Rineka Cipta
Kartadinata, Sunaryo dkk. (1998). Bimbingan di Sekolah Dasar. Bandung: Depdikbud
Purwanto,
Ngalim. (1990). Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Remaja Rosdakarya
Drs. Alex Sobur, M. Si. Psikologi Umum. Jakarta: (Hal 240 – 244)
Komentar
Posting Komentar